Kamis, 20 Agustus 2009

Indonesia Bangga Pencak Silat Masuk di AMAG 2009

Jakarta, (tvOne)

Indonesia bangga dengan hadirnya pencak silat yang dipertandingkan dalam AMAG (Asian Martial Arts Games/Kejuaraan Bela Diri Asia) 2009 di Bangkok, Thailand, karena cerminan bahwa Indonesia memiliki seni bela diri yang diakui dunia.

"Terlepas masalah prestasi, namun kita sebagai bangsa Indonesia merasa bangga melihat tulisan-tulisan `Pencak Silat` di sudut-sudut Kota Bangkok, yang mencerminkan pengakuan dunia bahwa Indonesia memiliki seni bela diri khas," kata Wakil Ketua Kontingen Indonesia pada AMAG 2009, Achmad Amins di Bangkok, Selasa.

Amins seperti dilansir Antara menjelaskan bahwa pada event tersebut hadir 45 negara di kawasan Asia termasuk negara-negara pecahan Uni Sovyat/Rusia sehingga kian memperkenalkan seni bela diri tersebut serta nama Indonesia di mancanegara.

"Tengok saja Thailand semua hal yang berbau negara ini mampu mereka kemas dan jual untuk mendukung sektor kepariwisataan, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama, ingat pencak silat ingat Indonesia," kata Achmad Amins yang juga walikota Samarinda itu.

Hal itu disampaikannya sesuai menyerahkan penghargaan sejumlah uang kepada Eka Sahara, atlet kelas berat putri dan Rizal Syamsir, atlet kelas putra taekwondo yang masing-masing berhasil meraih perunggu dan perak. Eka Sahara adalah atlet Pelatnas berasal dari Kaltim yang sempat memperkuat tim taekwondo provinsi itu pada PON XVII-2008 Kaltim, sedangkan Rizal berasal dari Ambon.

Mengenai prestasi atlet Indonesia pada AMAG, ia mengakui bahwa cukup membanggakan karena semula memang tidak mematok target muluk-muluk, seperti keberhasilan atlet judo dan taekwondo yang meraih mendali pada event tersebut.

"Kita menyadari bahwa negara yang melahirkan seni bela diri seperti judo dan taekwondo juga hadir dalam AMAG, namun kita bisa mencuri medali, sudah tentu hal ini membanggakan," katanya.

Mengenai pelaksaan AMAG, ia mengakui bahwa kalah "pamor" dengan SEA Games atau Asia Games karena cabang olahraga yang dipertandingkan terbatas. "Justru itu ada wacana bahwa event ini menjadi yang pertama dan terakhir karena berdekatan dengan SEA Games dan Asian Games sehingga menjadi beban keuangan bagi negara peserta," imbuh dia.

Namun, bukan berarti tertutup samasekali untuk menggelar event itu, ia menilai bahwa Kaltim siap mempelopori agar event tersebut bisa dilaksanakan dengan bentuk kemasan berbeda, misalnya hanya tingkat Asean karena negara-negaranya berdekatan tentu biaya akan lebih murah. "Setelah melihat venues untuk mempertandingan sejumlah cabang olaharag bela diri ini di Thailand, maka sebenarnya Kaltim memiliki venues yang lengkap dan mewah," ujar dia.

Misalnya, Indoor Stadium Huamark Bangkok, tempat acara pembukaan AMAG dan lokasi pertandingan beberapa seni bela diri yang digelar dalam event itu maka kapasitas serta kemegahan gedung kurang lebih seperti Stadion Madya Sempaja Samarinda.

"Bahkan, Stadion Madya Lebih Lengkap karena terdapat asrama dan hotel atlet, jadi kita harus menangkap peluang untuk menggelar event seperti ini untuk mendukung sektor lain, misalnya kepariwisataan," papar Achmad Amins.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar