Rabu, 25 November 2009

Mantan Atlet Pencak Silat Mendapat Penghargaan

Seperti dilansir dalam harian Pikiran Rakyat edisi Selasa, 24 November 2009, sebanyak lima belas atlet Jawa Barat menerima penghargaan berupa bantuan pemberian rumah dari Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. Mereka adalah penerima penghargaan berupa uang masing-masing Rp 100 juta, yang ditransfer ke rekening yang bersangkutan.

Dari kelima belas penerima penghargaan tersebut, ada tiga nama mantan atlet pencak silat, yaitu: Istiyar Vidya Irianti , Samiaji dan Syakera Hujasmedi. Program Penghargaan ini tentu saja kami sambut dengan penih suka cita. Karena bagaimanapun, ini bisa dijadikan salah satu motivator untuk menumbuh kembangkan keinginan berprestasi kepada atlet-atlet yang sedang kami bina.

Namun sayang, Program yang sangat baik ini dirasa belum menyentuh pada niat baik yang sebenarnya. Mengacu pada surat keputusan Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Nomor 0328 tahun 2009 tanggal 28 Agustus 2009 tentang Pemberian Penghargaan Rumah bagi Olah Ragawan/Mantan Olah Ragawan Berprestasi Tahun Anggaran 2009. Program Penghargaan ini hanya ditujukan bagi mereka "mantan atlet" yang telah memiliki prestasi di tingkat Nasional dan Internasional. Pada kenyataannya, ada atlet yang sama sekali tidak mempunyai prestasi di tingkat Nasional apalagi di tingkat Internasional bisa mendapatkan penghargaan tersebut. Sebut saja Bapak Syakera Hujasmedi yang notabene tidak mempunyai prestasi di even/kejuaraan Nasional semisal Pekan Olahraga Nasional.

Sedangkan pesilat veteran yang benar-benar mempunyai prestasi dan telah mengharumkan nama bangsa justru terlewatkan begitu saja. Bapak Ujang Jayadiman peraih medali emas pada gelaran PON X 1981 di Jakarta dan peraih medali perak pada kejuaraan Infitasi Internasional I 1982 (Kejuaraan Dunia sekarang) di Jakarta. Merasa niatan baik dari Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga tersebut tidak dapat dirasakannya.

Oleh karenanya perlu ada verifikasi ketat dari pihak Kementrian Negara Pemuda dan Olah Raga atas data atlet berprestasi yang diajukan oleh pemerintah daerah. Karena bagaimanapun ini merupakan hak yang mesti diterima oleh orang yang benar-benar telah melaksanakan kewajibannya dalam mengharumkan nama Bangsa maupun daerahnya.

Minggu, 30 Agustus 2009

Rudi Hartono "Tantangan Berat Badan"


ADA dua misi yang harus dilakukan pesilat andalan Kabupaten Bandung, Rudi Hartono pada bulan Ramadan 1430 H ini. Yang pertama jelas harus berpuasa. Dan yang kedua adalah menjaga agar bobot tubuhnya tidak turun drastis.

Dua misi inilah yang dianggap Rudi sebagai tantangan tersendiri. "Ya, kondisi seperti ini sangat sulit bagi saya menghadapinya. Tapi, saya akan berusaha sekuat tenaga menjalankannya dengan kemampuan terbaik supaya puasa tetap jalan dan mempertahankan berat badan juga terlaksana," ujarnya kepada "GM", belum lama ini.

Urusan mempertahankan berat badan supaya tidak turun drastis berhubungan erat dengan persiapannya menghadapi Pekan Olahraga Daerah (Porda) XI/2010 Jabar tahun depan. Pada penyelenggaraan Porda, Rudi harus naik satu kelas dari kelas F ke kelas G. "Maka konsekuensinya, saya harus menambah berat badan sekitar 5 kg ke angka 76 atau 77 kg," ungkapnya.

Tuntutan yang cukup sulit dilakukan di bulan Puasa ini, tidak lantas membuat Rudi panik dan putus asa. Bahkan sebaliknya, ia menghadapi tantangan tersebut dengan semangat yang tinggi. "Yang pasti, saya berusaha supaya berat badan tidak drop dengan banyak mengonsumsi makanan bergizi tinggi dan istirahat yang cukup," katanya.

Karena harus mempertahankan berat badannya, maka selama bulan Puasa ini, Rudi hanya melakukan joging tanpa melakukan latihan keras seperti hari-hari biasanya.

Untuk meningkatkan berat badan, Rudi sudah mempunyai program yang sudah dirancang pelatihnya.

"Pada bulan Puasa ini, saya latihan ringan saja. Baru setelah Lebaran nanti, saya akan berlatih dengan cukup keras ditambah dengan konsumsi makanan yang bergizi supaya berat badan naik," kata Rudi.
(ozy/"GM")**